Gabungan YUK, pelajari musik nusantara (Tolong dibantu komen dan views untuk nilai kampus terima kasih kawan-kawan :)) )
1. Gambus — Warisan Muzik Melayu dari Kepulauan Riau
Ringkasan singkat: Gambus adalah alat musik petik tradisional yang akarnya dari alat petik Arab (oud). Melalui jalur perdagangan dan penyebaran budaya Islam, gambus masuk ke Nusantara dan beradaptasi menjadi alat musik Melayu (termasuk di Kepulauan Riau), dipakai pada pertunjukan zapin, hadrah, dan lagu-lagu tradisional setempat.
Asal-Usul dan Sejarah Singkat
Asal-usul umum: Gambus berakar dari keluarga lute Timur Tengah — khususnya oud — yang dibawa oleh pedagang dan perantau Arab (termasuk komunitas Hadrami) ke pesisir Melayu sejak abad pertengahan hingga awal modern.
Proses adaptasi di Nusantara: Setelah tiba di pesisir Sumatra, Kepulauan Riau, Johor, dan pantai selatan Thailand, instrumen ini diadaptasi ke gaya musik lokal: bentuk badan, jumlah dawai, teknik permainan, dan repertoar berubah mengikuti selera Melayu.
Peranan budaya: Di Kepulauan Riau gambus sering tampil bersama tarian zapin, syair Melayu, dan acara keagamaan/komunal. Ia menjadi simbol synkretisme Arab–Melayu: melodi-maqam Arab bersinggungan dengan ritme dan lirik lokal.
Jenis-jenis Gambus & Ciri Fisik Utama
Gambus Melayu (flatback / perut datar): Badan agak pipih/cekung, leher berkaitan dengan badan, fretted (berkas fret), sering dilapisi ukiran/rosette. Lebih sering dipakai di Kepulauan Riau.
Gambus Hadhrami / Arab (lebih mirip oud): Badan bulat (bowl-back) atau cekung kuat, leher lebih pendek, kadang tanpa fret (atau fret semi), suara lebih “bulat”.
Jumlah senar: Bervariasi — ada 3-course (3 dawai tunggal), 4, hingga 7 dawai/kor (beberapa berpasangan). Pilihan jumlah memengaruhi rentang dan teknik.
Bahan: Papan suara (soundboard) umumnya kayu lunak seperti cemara/spruce; badan/kerangka dari kayu keras (jackfruit/meranti/tek); senar modern dapat berupa nilon atau baja berlapis.
Cara Memainkan Gambus — Panduan Rinci untuk Pemula sampai Menengah
Sikap & Posisi
Duduk tegak, badan sedikit condong ke depan.
Letakkan badan gambus di paha kanan (untuk pemain kanan) atau bisa disangga dengan tali. Leher sedikit miring ke atas agar jangkauan jari kiri nyaman.
Teknik Tangan Kanan (petik)
Alat petik: Bisa pakai plectrum (jangkrik/plastik tipis) untuk suara tegas, atau jari (telunjuk + ibu jari) untuk suara halus/tremolo.
Basic stroke:
Downstroke (tarik ke bawah) — menghasilkan nada kuat.
Upstroke (tarik ke atas) — untuk variasi.
Tremolo (mengulang cepat satu nada) sering dipakai untuk melodi panjang.
Ornamen: Rolls (gilis cepat), arpeggio (petik cepat berturut pada nada akord), dan pukulan ritmis untuk pengiring.
Cara Pembuatan Gambus — Panduan Teknik Dasar (ringkasan langkah demi langkah)
Catatan keselamatan: pembuatan alat musik memerlukan alat pertukangan tajam dan teknik pemrosesan kayu — selalu gunakan alat pelindung dan berhati-hati.
Bahan & Alat Utama
Kayu untuk soundboard: cemara/spruce/cedar tipis (2.5–4 mm).
Kayu untuk kerangka/badan: jackfruit, mahogany, teak, atau meranti.
Kayu leher: mahogany/rosewood.
Bridge, nut, tuning pegs (mechanical atau kayu), senar (nilon/steel).
Lem (glue wood), pahat, gergaji, bor, kikir, amplas, klem, planer.
Alat pengukir (jika ingin rosette/ornamen).
2. Rebab (Jawa Tengah)
Ketika masuk ke Jawa Tengah, rebab kemudian diadaptasi dengan bahan lokal dan menjadi bagian penting dalam gamelan Jawa. Saat ini rebab dipakai untuk mengiringi wayang kulit, karawitan, dan gamelan tradisional.
Akar dan Sejarah Masuknya Rebab :
Rebab di Jawa Tengah (dan Jawa Timur) merupakan instrumen gesek dua dawai yang diadaptasi dari instrumen Timur Tengah/Arab yang dibawa ke Nusantara melalui jalur perdagangan dan budaya Islam.
Bodi rebab bisa terbuat dari kayu dengan resonator kulit atau tempurung, dawai metal dan busur gesek.
Pemain duduk, memegang rebab tegak, menggesek dawai dengan busur sambil menekan dawai untuk menghasilkan nada.
Dalam ansambel gamelan, rebab sering memainkan melodi pembuka atau sebagai elaborasi dari melodi utama.
Catatan blog: Sertakan foto pemain rebab di gamelan, close-up dawai dan busurnya, dan penjelasan posisi bermain.
Cara diciptakan :
Rebab terbuat dari kayu atau tempurung kelapa yang dilapisi kulit tipis di bagian depan sebagai resonator. Dawainya biasanya dari logam, sedangkan alat geseknya dibuat dari kayu dan rambut ekor kuda.
1. Badan / Resonator
Tempurung kelapa tua (pilihan tradisional terbaik)
Kadang diganti dengan kayu nangka atau kayu mahoni
2. Leher Rebab
Kayu nangka / jati / mahoni
3. Selaput Penutup Resonator
Kulit kambing tipis atau kulit ikan
4. Senar
Dahulu: serat tanaman / benang sutra
Sekarang: senar baja tipis atau nilon
5. Busur Gesek
Rotan melengkung
Rambut kuda (horsehair)
Kesimpulan
Rebab Jawa Tengah adalah instrumen gesek yang memiliki:
Asal-usul dari Timur Tengah, bertransformasi menjadi instrumen khas Jawa.
Peran penting dalam gamelan sebagai pemimpin melodi yang bebas.
Teknik permainan berlapis yang menuntut kelenturan, intuisi, dan kepekaan rasa.
Proses pembuatan rumit, mulai dari tempurung kelapa hingga pemasangan kulit dan senar.
3. Bonang (Jawa Tengah)
– Gamelan Jawa Tengah
– Upacara adat
– Wayang kulit
– Pertunjukan karawitan
Bonang adalah instrumen gong-chime yang berkembang di Jawa sebagai bagian dari ansambel gamelan—sejarahnya diperkirakan sudah sejak abad ke-9 atau ke-10. organology.net+1
Terbuat dari barisan gong kecil (kettles) logam (bronze atau kuningan) yang diletakkan horizontal di atas rangka kayu dan ditabuh dengan stik yang dibungkus kain. Wikipedia+1
Pemain memukul gong kecil tersebut dengan pemukul khusus (tabuh) yang ujungnya dibungkus kain agar suaranya tidak terlalu keras. Wikipedia
Dalam gamelan, bonang bukan melodi utama, melainkan instrumen elaborasi: bermain pola cepat, interlocking, dan menghias melodi. instrumentsoftheworld.com
Cara diciptakan:
Bonang terdiri dari deretan pencon (piringan logam cembung) yang disusun di atas tali dalam rangka kayu panjang. Setiap pencon menghasilkan nada berbeda.
Kesimpulan
Asal usul: Berakar dari tradisi gong Asia Tenggara dan berkembang pada masa kerajaan Jawa.
Cara main: Dipukul di bagian pencon menggunakan dua tabuh, dengan teknik memukul dan meredam.
Cara membuat: Logam perunggu ditempa menjadi pencon, disetel nadanya, lalu disusun pada rangka kayu.
4. Serunai (Sumatera Barat)
Serunai adalah alat musik tiup tradisional dari Minangkabau, Sumatera Barat. Alat musik ini sudah digunakan sejak zaman kerajaan di Minangkabau sebagai pengiring upacara adat, pertunjukan tari, dan pesta rakyat. Serunai dipercaya berasal dari pengaruh budaya Timur Tengah dan India yang masuk lewat jalur perdagangan, lalu berkembang menjadi bentuk khas Minang.
Serunai berasal dari budaya Minangkabau di Sumatera Barat. Alat tiup ini biasanya dibuat dari bambu atau logam dengan lidah logam atau sistem reed.
Digunakan dalam upacara adat, penyambutan tamu, tari tradisional seperti tari pasambahan.
Cara Pembuatan :
Serunai biasanya dibuat secara tradisional oleh perajin Minang dengan bahan-bahan alami:
Bahan:
Batang padi, bambu kecil, atau kayu
Batang pelepah kelapa untuk corong
Reeds (lidah serunai) dari daun kelapa atau bambu tipis
Batang padi, bambu kecil, atau kayu
Batang pelepah kelapa untuk corong
Reeds (lidah serunai) dari daun kelapa atau bambu tipis
Proses:
Membentuk badan serunai : Bambu/kayu dilubangi memanjang, lalu dibuat 4–6 lubang nada di bagian depannya.
Membuat corong : Pelepah kelapa dibentuk seperti corong sebagai pengeras suara, kemudian dipasangkan di bagian ujung.
Membuat lidah serunai : Daun kelapa atau bambu tipis dipotong kecil, kemudian dibelah sebagian untuk membentuk “lidah” getar. Bagian ini penting karena menghasilkan suara khas serunai.
Perakitan : Lidah serunai dipasang di bagian mulut tiupan, lalu corong dipasang di ujung yang lain.
Membentuk badan serunai : Bambu/kayu dilubangi memanjang, lalu dibuat 4–6 lubang nada di bagian depannya.
Membuat corong : Pelepah kelapa dibentuk seperti corong sebagai pengeras suara, kemudian dipasangkan di bagian ujung.
Membuat lidah serunai : Daun kelapa atau bambu tipis dipotong kecil, kemudian dibelah sebagian untuk membentuk “lidah” getar. Bagian ini penting karena menghasilkan suara khas serunai.
Perakitan : Lidah serunai dipasang di bagian mulut tiupan, lalu corong dipasang di ujung yang lain.
Kesimpulan
Serunai adalah alat musik tiup tradisional yang banyak ditemui di Sumatera Barat dan beberapa daerah Nusantara lainnya. Alat ini memiliki suara nyaring dan melengking, digunakan untuk mengiringi upacara adat, tari tradisional, dan pertunjukan kesenian Minangkabau.
Bentuknya menyerupai terompet sederhana dengan lubang nada di bagian badan, biasanya dibuat dari bambu, kayu, atau tanduk kerbau. Suara serunai dihasilkan melalui tiupan kuat dan teknik pernapasan yang stabil. Hingga kini, serunai tetap menjadi simbol kekuatan musikal Minangkabau dan memainkan peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah.
Bentuknya menyerupai terompet sederhana dengan lubang nada di bagian badan, biasanya dibuat dari bambu, kayu, atau tanduk kerbau. Suara serunai dihasilkan melalui tiupan kuat dan teknik pernapasan yang stabil. Hingga kini, serunai tetap menjadi simbol kekuatan musikal Minangkabau dan memainkan peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah.
5. Talempong (Sumatera Barat)
Talempong adalah alat musik tradisional khas Minangkabau (Sumatera Barat) yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Talempong diperkirakan berkembang dari tradisi musik gong kecil Asia Tenggara, kemudian diadaptasi oleh masyarakat Minang menjadi alat musik yang digunakan dalam upacara adat, penyambutan tamu, tari tradisional (seperti Tari Piring dan Tari Pasambahan), serta prosesi pernikahan.
Dahulu, talempong digunakan sebagai alat komunikasi adat dan simbol kebersamaan karena dimainkan secara kelompok. Dalam budaya Minang, talempong juga melambangkan kerjasama dan kekompakan, karena nada-nadanya hanya bisa terbentuk bila dimainkan bersama.
Asal mula & pembuatan :
Talempong adalah instrumen logam (kuningan atau perunggu) dari Minangkabau, Sumatera Barat. Berbentuk lempengan bulat dengan tonjolan di tengah, diletakkan di rak kayu.
Digunakan dalam musik tradisional Minang, tari, serta menyambut tamu.
Cara memainkannya:
Talempong diletakkan di rangka kayu atau di genggam tangan.
Pemain memukul bagian pencu (tonjolan di tengah) untuk menghasilkan suara.
Pukulan harus stabil agar ritme rapi.
Permainan biasanya cepat, berirama, dan saling mengisi antar pemain.
Musiknya terdengar nyaring, ritmis, dan penuh energi, cocok untuk mengiringi upacara adat Minang.
Cara Pembuatan : Talempong dibuat secara tradisional menggunakan bahan logam campuran.
Bahan:
Kuningan (campuran tembaga + seng)
Kadang menggunakan perunggu
Proses Pembuatan:
Membuat cetakan
Cetakan tanah liat dibentuk menyerupai gong kecil dengan bagian tengah yang menonjol (pencu).Mencairkan logam
Kuningan atau perunggu dilelehkan di tungku suhu tinggi.Menuang logam cair
Logam cair dituangkan ke dalam cetakan lalu dibiarkan hingga mengeras.Pembentukan dan perapian
Setelah dilepas dari cetakan, talempong dipukul dan dibentuk kembali agar ketebalan dan bentuknya sempurna.Penghalusan dan pemolesan
Permukaan talempong dihaluskan dan dipoles agar terlihat rapi.Penyeteman (tuning)
Langkah ini paling penting.
Perajin mengikir atau menipiskan bagian tertentu untuk menghasilkan nada yang tepat. Proses ini dilakukan berulang sampai nada yang keluar stabil.
Cara diciptakan:
Talempong terbuat dari logam seperti perunggu atau kuningan. Bentuknya mirip gong kecil dengan tonjolan di tengah.
6. Aramba (Nias, Sumatera Utara)
Aramba adalah alat musik pukul tradisional dari Pulau Nias, Sumatera Utara. Aramba sudah digunakan sejak zaman kerajaan-kerajaan Nias dan merupakan salah satu benda budaya paling berharga dalam masyarakat Nias.
Pada masa lalu, Aramba hanya dimiliki oleh bangsawan atau kepala adat. Fungsinya bukan hanya sebagai alat musik, tetapi juga sebagai simbol status sosial, penanda kekuasaan, dan digunakan dalam upacara adat penting seperti:
Penyambutan tamu kehormatan
Upacara pernikahan
Upacara perang (Fahombo)
Upacara adat suku Nias lainnya
Aramba juga erat kaitannya dengan tradisi Owasa, yaitu pesta besar yang menandakan naiknya status seseorang dalam masyarakat.
Ada dua jenis Aramba:
Aramba Hongo – Besar, sakral, dan sangat langka; hanya dipakai pada upacara tinggi.
Aramba Fato – Ukuran lebih kecil; digunakan dalam ansambel musik.
Aramba berasal dari Pulau Nias (Sumatera Utara) dan merupakan gong logam besar yang dahulu hanya digunakan dalam upacara adat oleh bangsawan atau kepala suku.
Terbuat dari kuningan atau perunggu besar dengan suara gong yang dalam dan bergema.
Cara memainkannya:
Aramba digantung pada rangka kayu atau balok.
Pemain memukul bagian tepi dalam atau bagian pinggir dekat pencu (tonjolan) untuk menghasilkan suara yang nyaring.
Setiap Aramba memiliki nada dan resonansi berbeda tergantung besar–kecil dan ketebalannya.
Permainan biasanya mengandalkan ritme, bukan melodi, sehingga Aramba menjadi pengatur tempo dalam musik tradisional Nias.
Suara Aramba terdengar besar, bergaung, dan bergema, sangat cocok untuk upacara adat karena mampu menjangkau area luas.
Cara Pembuatan : Pembuatan Aramba dilakukan secara tradisional dan memerlukan keahlian khusus, terutama karena ukuran Aramba bisa besar dan tebal.
Bahan:
Perunggu (campuran tembaga dan timah)
Kadang menggunakan kuningan
Proses Pembuatan Aramba:
Membuat Cetakan Tanah Liat
Cetakan dibuat berbentuk bulat seperti gong dengan bagian tengah sedikit menonjol. Cetakan ini harus kuat dan tahan panas.Melelehkan Logam
Perunggu dilelehkan pada tungku dengan suhu sangat tinggi hingga menjadi cair.Menuang Logam Cair
Logam cair dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan mengeras.
Proses ini harus tepat agar ketebalan logam merata.Pembentukan dan Penempaan
Setelah mengeras, Aramba dilepas dari cetakan lalu ditempa untuk menyempurnakan bentuknya.
Bagian tepi dan permukaan diratakan agar menghasilkan suara yang konsisten.Penghalusan Permukaan
Aramba digosok dan dipoles sehingga lebih halus dan memiliki warna keemasan atau kecoklatan.Penyeteman (Tuning)
Bagian yang terlalu tebal atau tipis diatur dengan cara ditempa atau dikikir sedikit demi sedikit.
Proses ini menentukan kualitas suara Aramba—resonansi, panjang gema, dan ketepatan nadanya.
Cara diciptakan :
Aramba dibuat dari logam perunggu besar berbentuk seperti gong. Biasanya dibuat secara tradisional oleh pandai logam lokal.
Kesimpulan
Aramba adalah alat musik pukul tradisional khas masyarakat Nias yang terbuat dari logam seperti kuningan atau perunggu. Bentuknya menyerupai gong besar dengan suara yang kuat, dalam, dan bergema. Aramba biasanya digunakan dalam upacara adat penting seperti pernikahan, penyambutan tamu, atau pesta besar. Selain sebagai alat musikal, Aramba juga menjadi simbol status dan kehormatan dalam budaya Nias, sehingga perannya tidak hanya sebagai instrumen musik tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat.7. Gondang (Batak, Sumatera Utara)
7. Gondang (Batak, Sumatera Utara)
Gondang adalah alat musik tradisional suku Batak Toba (Sumatera Utara) yang terdiri dari beberapa jenis gendang yang dimainkan bersama sebagai satu ansambel. Gondang sudah ada sejak masa leluhur Batak dan berfungsi bukan hanya sebagai musik hiburan, tetapi juga memiliki makna spiritual dan ritual.
Gondang digunakan dalam:
Upacara adat pernikahan
Upacara kematian (Gondang Sabangunan)
Upacara syukuran
Kegiatan keagamaan kepercayaan Batak kuno
Penyambutan tamu
Dalam budaya Batak, Gondang dianggap sebagai bahasa komunikasi dengan leluhur. Nada dan ritme tertentu dipercaya dapat “memanggil” roh leluhur atau menyampaikan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Mulajadi Nabolon).
Taganing → 5 gendang bernada
Gordang → 1 gendang besar pengatur ritme
Sarune Bolon → alat tiup utama (melodi)
Ogung → gong besar sebagai penanda tempo
Hesek → alat ritmis dari potongan logam/kecrek
Gondang dibuat secara tradisional oleh perajin Batak yang menguasai teknik turun-temurun.
A. Bahan:
Kayu nangka (paling sering karena kuat dan menghasilkan resonansi baik)
Alternatif: kayu ingul atau kayu haminjon
Kulit hewan (sapi atau kerbau) untuk membran
Rotan atau tali untuk pengikat
Pemilihan Kayu
Kayu dipilih yang kuat, tidak pecah, dan sudah dikeringkan.Pembentukan Tabung Gendang
Kayu dipotong lalu dilubangi bagian tengahnya hingga membentuk tabung resonansi.
Bagian luar dipahat membentuk silinder yang rapi dan proporsional.Menghaluskan Permukaan
Tabung kayu diamplas agar halus dan siap dipasangi membran.Persiapan Membran
Kulit sapi/kerbau direndam, dibersihkan, lalu dikeringkan hingga siap digunakan.Pemasangan Membran
Kulit dipasang di kedua sisi gendang lalu diikat dengan rotan atau tali khusus agar kuat dan menghasilkan tegangan yang tepat.Penyeteman Nada
Bagian dalam gendang diatur ketebalannya.
Ketegangan kulit dinaikkan atau diturunkan untuk mendapatkan nada yang pas.
Taganing harus memiliki 5 nada yang berbeda, sehingga proses tuning dilakukan dengan sangat teliti.
Cara memainkan : Dipukul dengan telapak tangan atau stik oleh pemain; ritme dan tempo dikendalikan untuk mengiringi nyanyian, tarian atau ritual.
Pemain memukul membran gendang dengan tangan atau stik pendek.
Taganing menghasilkan nada dan bisa memainkan melodi sederhana.
Gordang dan ogung memberi ritme dan tempo.
Sarune bolon memainkan melodi utama yang panjang dan melengking.
Pemain harus selaras karena gondang adalah musik ansambel, sehingga ritme dan pola pukulan harus sangat kompak.
Musik gondang terdengar ritual, ritmis, kuat, dan penuh semangat, mencerminkan karakter budaya Batak.
Catatan blog : Gambar gondang bersama hasapi atau taganing, dan suasana upacara Batak yang memakai gondang.
Cara diciptakan: Gondang berbentuk seperti gendang panjang dari kayu yang dikosongkan bagian tengahnya, dan kedua sisinya ditutup kulit sapi atau kerbau.
Kesimpulan
Gondang Batak adalah ansambel musik tradisional suku Batak Toba yang memiliki fungsi ritual, sosial, dan budaya. Alat musik ini bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana komunikasi spiritual dengan leluhur dalam berbagai upacara adat.
Gondang dimainkan secara bersama-sama menggunakan gendang bernada (taganing), gendang besar (gordang), sarune bolon, ogung, dan hesek. Permainannya mengutamakan kekompakan, ritme, dan harmoni untuk menghasilkan musik yang kuat dan penuh energi.
Pembuatan gondang dilakukan dengan teknik tradisional menggunakan kayu nangka, kulit hewan, dan logam, melalui proses pemahatan, pemasangan membran, hingga penyeteman nada. Kerajinan ini diwariskan turun-temurun dan mencerminkan identitas budaya Batak.
Secara keseluruhan, Gondang Batak adalah warisan budaya yang menunjukkan kreativitas, spiritualitas, dan kekuatan tradisi masyarakat Batak.
8. Gendang Melayu (Riau)
Gendang Melayu adalah alat musik pukul tradisional yang berkembang di wilayah Riau, Sumatera Timur, dan pesisir Melayu lainnya. Alat musik ini telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan Melayu, seperti Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Gendang Melayu digunakan dalam:
Musik tradisi Zapin
Tari Melayu (Tari Persembahan, Tari Inang, Tari Joget)
Upacara adat pernikahan
Penyambutan tamu kehormatan
Acara kesultanan dan kegiatan keagamaan
Secara budaya, gendang menjadi pengatur ritme dalam kesenian Melayu. Bunyi gendang melambangkan semangat, kegembiraan, dan menjadi identitas musik Melayu yang kuat. Dalam tradisi Zapin, gendang dipercaya sebagai alat musik pertama yang dibawa oleh pedagang Arab dan Persia, lalu berpadu dengan budaya lokal Melayu.
Pembuatan Gendang Melayu membutuhkan keterampilan khusus yang diwariskan turun-temurun.
Bahan Utama:
Kayu nangka (paling umum karena kuat dan menghasilkan resonansi baik)
Kulit kambing atau sapi (untuk membran)
Rotan atau tali pengikat
Paku atau lem kayu
Pewarna/vernis
Proses Pembuatan:
1. Pemilihan dan Pengeringan Kayu
Kayu nangka dipilih yang berumur tua agar keras. Kayu dikeringkan beberapa minggu hingga benar-benar kering untuk mencegah retak.
2. Membentuk Tabung Gendang
Kayu dibentuk menyerupai tabung.
Bagian dalam dilubangi secara manual hingga menjadi ruang resonansi.
Ketebalan disesuaikan agar menghasilkan suara yang bagus.
3. Menghaluskan dan Memperindah
Bagian luar gendang dipahat rapi lalu diamplas, kemudian diberi vernis agar mengilap.
4. Persiapan Membran Kulit
Kulit kambing atau sapi direndam beberapa hari.
Dibersihkan, direntangkan, lalu dijemur sampai kencang.
Semakin tipis kulit, semakin nyaring suara gendang.
5. Pemasangan Membran
Kulit dipasang pada kedua sisi tabung gendang.
Diikat menggunakan rotan atau tali kuat hingga menegang.
Proses pengikatan sangat penting karena menentukan kualitas bunyi.
6. Penyeteman (Tuning)
Tegangan kulit disesuaikan menggunakan rotan/tali pengikat.
Perajin menguji suara dengan memukul dan menyesuaikan sampai menghasilkan nada yang bulat dan jernih.
Teknik Memainkan:
Pemain duduk sambil memegang gendang dengan posisi miring.
Bagian membran kulit dipukul menggunakan:
telapak tangan
jari
atau stik pendek (jika digunakan versi gendang zapin Arab)
Pukulan terdiri dari 3 suara dasar:
“pak”, “pong”, dan “tak”, yang dihasilkan dari teknik pukulan berbeda.Pemain mengikuti pola ritme cepat dan dinamis, terutama pada tarian zapin.
Irama harus stabil, rapi, dan kompak karena gendang adalah pengatur tempo utama dalam ansambel musik Melayu.
Musiknya terdengar enerjik, bersemangat, dan bergerak cepat.
Cara diciptakan :
Terbuat dari kayu keras dan kulit hewan (biasanya kambing). Kedua sisinya dilapisi kulit dan diikat dengan tali rotan untuk mengatur kekencangan suara.
Kesimpulan
Gendang Melayu Riau adalah alat musik pukul yang berasal dari budaya Melayu pesisir dan sangat berperan dalam musik zapin dan tarian tradisional. Alat ini dimainkan dengan pukulan tangan dan menghasilkan ritme yang hidup. Proses pembuatannya melibatkan kayu nangka, kulit hewan, dan teknik tradisional yang teliti, mulai dari membuat tabung, memasang membran, hingga penyeteman.
9. Tehyan (Betawi – Jakarta)
Tehyan adalah alat musik gesek tradisional yang berasal dari Budaya Betawi, Jakarta. Alat musik ini merupakan hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan Betawi.
Asal-usulnya :
Tehyan dibawa oleh imigran Tionghoa ke Batavia (Jakarta tempo dulu).
Bentuknya mirip dengan alat musik Tionghoa seperti Erhu dan Banhu, tetapi mengalami penyesuaian bahan dan karakter suara sehingga menjadi ciri khas Betawi.
Tehyan kemudian digunakan masyarakat Betawi dalam musik Gambang Kromong, Tanjidor, dan Orkes Samrah.
Fungsi Tehyan :
Mengisi melodi utama atau ornamen musik dalam Gambang Kromong.
Memberikan warna suara yang “ngeriung” (serak tapi nyaring), ciri khas musik Betawi.
Tehyan adalah bukti nyata percampuran budaya yang membentuk identitas musik Betawi hingga sekarang.
Asal mula & pembuatan :
Tehyan dibuat dengan bahan tradisional dan teknik sederhana, namun menghasilkan suara unik yang tidak bisa digantikan alat modern.
Bahan Utama Tehyan:
Kayu jati atau nangka → untuk badan dan leher
Tempurung kelapa → untuk resonator (bagian bulat bawah)
Kulit ular/ikan/kulit tipis lainnya → untuk menutup lubang resonator
Senar baja atau nylon → untuk senar
Rambut ekor kuda → untuk busur
Rotan → untuk pengikat atau hiasan
Proses Pembuatan Tehyan :
1. Membuat Badan dan Leher Tehyan
Kayu dibentuk memanjang sebagai leher (mirip batang biola).
Bagian bawah dibuat rangka untuk ditempelkan resonator.
2. Membuat Resonator dari Tempurung Kelapa
Tempurung dibelah dan dibersihkan.
Dibentuk agar seimbang dan mampu memantulkan suara dengan baik.
Salah satu sisi ditutup menggunakan kulit tipis (biasanya kulit ular atau ikan) yang direntangkan ketat.
Kulit inilah yang membuat suara tehyan menjadi khas.
3. Merakit Resonator dan Leher
Leher kayu dipasang pada tempurung kelapa.
Penyetelan dilakukan agar seluruh bagian kuat dan tidak goyang.
4. Memasang Senar
Dua senar baja atau nylon dipasang dari ujung leher hingga ke resonator.
Bagian atas diberi penyetel (tuning peg) seperti biola tradisional.
5. Membuat Bow (Busur)
Busur dibuat dari kayu kecil melengkung.
Rambut ekor kuda diikatkan pada kedua ujungnya.
Rambut busur diolesi rosin (getah) agar mencengkeram senar saat digesek.
6. Penyeteman Nada
Senar disetel sesuai kebutuhan musik Gambang Kromong.
Perajin menguji suara dan memperbaiki posisi senar hingga menghasilkan suara serak yang khas.
angan kiri menekan senar untuk menghasilkan tinggi rendah nada.
Tangan kanan menggerakkan busur untuk menggesek senar.
Tehyan memiliki 2 senar, sehingga variasi nadanya terbatas, namun justru menghasilkan suara khas Betawi.
Permainan tehyan biasanya mengikuti melodi gambang dan mengisi aksen-aksen ritmis.
Karakter suara:
Nyaring, serak, dan sedikit "melengking", sehingga sangat cocok untuk musik Gambang Kromong yang ramai dan enerjik.
Cara diciptakan :
Badan tehyan terbuat dari batok kelapa yang ditutup kulit tipis, dengan dua dawai logam dan busur dari kayu serta rambut ekor kuda.
Kesimpulan
Tehyan adalah alat musik gesek khas Betawi yang muncul dari perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa. Alat ini dimainkan dengan cara digesek menggunakan busur dan berfungsi sebagai pembawa melodi dalam musik Gambang Kromong. Tehyan dibuat dari tempurung kelapa, kulit tipis, kayu, dan dua senar yang disetel sehingga menghasilkan suara nyaring dan khas Betawi.
10. Siter (Jawa Tengah)
Siter adalah alat musik petik tradisional yang berkembang di Jawa Tengah dan Yogyakarta, terutama dalam karawitan Jawa. Siter sering digunakan dalam:
Gamelan Jawa
Pertunjukan wayang kulit
Upacara adat dan ritual Jawa
Asal-usulnya:
Siter berasal dari keluarga alat musik kecapi atau zither, yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Hindu–Budha di Jawa.
Kata “siter” diambil dari bahasa Belanda citer, yang merujuk pada alat musik petik seperti zither, menunjukkan adanya pengaruh budaya luar yang kemudian disesuaikan dengan tradisi Jawa.
Dalam gamelan, siter digunakan sebagai pengisi melodi dan ornamen (cengkok dan sekaran), memberi warna lembut dalam musik Jawa.
Karakter khasnya adalah suara yang halus, jernih, dan menenangkan, sangat cocok untuk nuansa gamelan yang lembut dan meditatif.
Asal mula & pembuatan :
Siter berasal dari keluarga alat musik kecapi atau zither, yang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Hindu–Budha di Jawa.
Kata “siter” diambil dari bahasa Belanda citer, yang merujuk pada alat musik petik seperti zither, menunjukkan adanya pengaruh budaya luar yang kemudian disesuaikan dengan tradisi Jawa.
Dalam gamelan, siter digunakan sebagai pengisi melodi dan ornamen (cengkok dan sekaran), memberi warna lembut dalam musik Jawa.
Pembuatan siter dilakukan oleh perajin kayu dan alat musik tradisional dengan keterampilan khusus.
Bahan Utama:
Kayu nangka, jati, atau mahoni (untuk badan siter)
Dawai logam (baja atau kuningan)
Kayu kecil untuk penyangga dan penstabil
Paku kecil / pasak kayu sebagai pengatur nada
Kayu nangka, jati, atau mahoni (untuk badan siter)
Dawai logam (baja atau kuningan)
Kayu kecil untuk penyangga dan penstabil
Paku kecil / pasak kayu sebagai pengatur nada
Proses Pembuatan Siter:
1. Membuat Badan Siter
Kayu dipotong dan dibentuk menjadi kotak kecil memanjang seperti tempat senar.
Bagian tengah dibuat rongga resonansi agar suaranya nyaring.
Tepi dan permukaan dirapikan lalu diamplas sampai halus.
Kayu dipotong dan dibentuk menjadi kotak kecil memanjang seperti tempat senar.
Bagian tengah dibuat rongga resonansi agar suaranya nyaring.
Tepi dan permukaan dirapikan lalu diamplas sampai halus.
2. Membuat Penyangga Dawai
Bagian atas diberi kisi-kisi kayu kecil tempat dawai direntangkan.
Tiap kisi menjadi pemisah nada (posisi dawai pelog dan slendro).
Bagian atas diberi kisi-kisi kayu kecil tempat dawai direntangkan.
Tiap kisi menjadi pemisah nada (posisi dawai pelog dan slendro).
3. Memasang Dawai
Dawai logam dipasang dengan cara direntangkan dari ujung depan ke ujung belakang siter.
Umumnya terdapat 11–13 pasang dawai.
Dawai disusun dalam dua baris:
baris kiri (pelog)
baris kanan (slendro)
Dawai logam dipasang dengan cara direntangkan dari ujung depan ke ujung belakang siter.
Umumnya terdapat 11–13 pasang dawai.
Dawai disusun dalam dua baris:
baris kiri (pelog)
baris kanan (slendro)
4. Menyetel Nada
Perajin memutar pasak kayu atau paku kecil hingga ketegangan dawai menghasilkan nada yang tepat.
Proses ini harus dilakukan dengan teliti, karena siter harus sesuai dengan laras gamelan yang akan digunakannya.
Perajin memutar pasak kayu atau paku kecil hingga ketegangan dawai menghasilkan nada yang tepat.
Proses ini harus dilakukan dengan teliti, karena siter harus sesuai dengan laras gamelan yang akan digunakannya.
5. Finishing
Badan siter diberi vernis atau cat pelindung.
Setelah itu diuji kembali apakah suara sudah jernih dan seimbang.
Cara memainkan :Siter dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari tangan kanan dan kiri.
Badan siter diberi vernis atau cat pelindung.
Setelah itu diuji kembali apakah suara sudah jernih dan seimbang.
Siter dimainkan dengan cara dipetik menggunakan jari tangan kanan dan kiri.
Cara Memegang dan Memainkan:
Siter diletakkan di pangkuan atau di lantai.
Tangan kanan memetik dawai bagian kanan.
Tangan kiri memetik dawai bagian kiri.
Pemain menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menghasilkan kombinasi nada.
Siter diletakkan di pangkuan atau di lantai.
Tangan kanan memetik dawai bagian kanan.
Tangan kiri memetik dawai bagian kiri.
Pemain menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menghasilkan kombinasi nada.
Teknik Permainan:
Memetik cepat (seseg) untuk menambah efek ritmis.
Cengkok dan sekaran yaitu variasi nada khas dalam gamelan.
Siter mengikuti melodi balungan dalam gamelan tetapi menggunakan banyak ornamen sehingga terdengar lebih indah dan berlapis.
Pemain harus menjaga ketepatan nada pelog dan slendro (dua sistem nada dalam gamelan Jawa).
Suara siter terdengar nyaring, lembut, dan mengisi ruang di antara suara gamelan lainnya.
Catatan blog: Gambar close-up dawai siter, pemain siter dalam gamelan, dan teknik petikannya.
Memetik cepat (seseg) untuk menambah efek ritmis.
Cengkok dan sekaran yaitu variasi nada khas dalam gamelan.
Siter mengikuti melodi balungan dalam gamelan tetapi menggunakan banyak ornamen sehingga terdengar lebih indah dan berlapis.
Pemain harus menjaga ketepatan nada pelog dan slendro (dua sistem nada dalam gamelan Jawa).
Suara siter terdengar nyaring, lembut, dan mengisi ruang di antara suara gamelan lainnya.
Kesimpulan
Siter adalah alat musik petik tradisional dari Jawa Tengah yang digunakan dalam gamelan. Berasal dari pengaruh kecapi/zither, siter menghasilkan suara lembut dan jernih melalui dawai yang dipetik. Cara pembuatannya melibatkan kayu berkualitas, rongga resonansi, pemasangan dawai logam, dan penyeteman nada pelog-slendro.
Siter adalah alat musik petik tradisional dari Jawa Tengah yang digunakan dalam gamelan. Berasal dari pengaruh kecapi/zither, siter menghasilkan suara lembut dan jernih melalui dawai yang dipetik. Cara pembuatannya melibatkan kayu berkualitas, rongga resonansi, pemasangan dawai logam, dan penyeteman nada pelog-slendro.
Bagus dan mudah di mengerti
ReplyDeleteBagus
ReplyDeleteniceeee
ReplyDelete