Apakah Anda pernah mendengar tentang Demung? sebuah alat musik tradisional Jawa Tengah yang merupakan salah satu intrumen galeman yang termasuk keluarga balungan. Demung memiliki karakteristik logam-logam kuning yang disusun berderet diatas rancakan, ukuran demung lebih besar dari saron dan menghasilkan nada oktaf yang paling rendah.
Demung dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tabuh kayu. Seiring perkembangan zaman dan ditengah kemajuan teknologi dan modernisasi, semakin sedikit generasi muda yang mengenal keindahan suara serta makna filosofis di balik alat musik ini.
Demung banyak ditemukan di Yogyakarta. Demung merupakan alat musik yang di wariskan secara turun-menurun oleh masayarakat Jawa. Demung bukan sekedar alat musik, tetapi juga bagian dari identitas budaya, nilai estetika, dan filosofi kehidupan masyarakat Jawa. Alat musik demung sering dimainkan di berbagai pertunjukan gamelan, wayang kulit, tari tradisional, upacara adat, dan juga kegiatan pendidikan seni.
Alat musik demung termasuk dalam instrumen gamelan. Demung memiliki 2 versi yaitu Slendro (5 nada per oktaf), sedangkan Pelog (7 nada per oktaf). Demung memiliki wilahan yang relatif lebih tipis namun lebih lebar daripada wilahan saron, sehingga nada yang dihasilkannya lebih rendah. Ketiga alat musik ini memiliki kegunaan masing-masing, untuk menghasilkan nada rendah dibutuhkan Demung, untuk menghasilkan nada sedang dibutuhkan Saron, dan nada tinggi dibutuhkan Peking.
Demung slendro yang terdiri dari 5 tangga nada (do-re-mi-sol-la) dan demung pelog yang memiliki 7 tangga nada (do-re-mi-fa-sol-la-si), keduanya mempunyai susunan nada yang berbeda, jadi alat musiknya juga tidak bisa di pakai bergantian, yang artinya kalau kamu ingin memainkan lagu dengan laras pelog, kamu harus pakai demung pelog, bukan demung slendro, dan sebaliknya. Dalam satu set gamelan memiliki 2 demung, sehingga pemain tidak perlu saling menukarkan.
Demung bukan merupakan alat musik yang dimainkan sendiri, melainkan harus dibarengi oleh alat musik gamelan lainnya seperti peking dan saron, dan Demung biasanya ditemukan di pertunjukkan tradisional seperti wayang kulit sebagai instrumen pembuka lagu dan penguat lagu.
Keberadaan Demung dalam kehidupan modern
Perjalanan alat musik tradisional asal Jawa Tengah ini tidak selalu berjalan dengan mulus. Menurut perkataan SAL selaku salah satu organisasi Demung yang populer di Jakarta mengatakan bahwa masih banyak masyarakat muda yang berpikir bahwa Demung merupakan alat musik yang kuno dan hanya dimainkan oleh orang tua saja. Padahal UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) sebuah organisasi dibawah naungan PBB menyatakan Demung sebagai warisan tak benda yang perlu dilestarikan.
Dalam perkembangan yang serba teknologi, penyebaran informasi selalu meluas dengan cepat dan tepat sasaran, sebagai organisasi Demung, harus memikirkan cara menyebarkan informasi untuk generasi muda untuk dapat melestarikan Demung. Berikut beberapa cara untuk melestarikan Demung
- Melalui pendidikan dan pengenalan sejak dini
Pelestarian alat musik tradisional seperti demung sebaiknya dimulai sejak masa sekolah. Pembelajaran yang berupa praktek alat musik ini dapat secara efektif membuat murid mengetahui akan keberadaan alat musik ini. Menurut laporan dari Bimas Buddha (2021), program pengenalan gamelan di sekolah terbukti efektif menumbuhkan rasa cinta terhadap musik tradisional di kalangan remaja.
Salah satu kunci keberhasilan melestarikan demung adalah keterlibatan aktif generasi muda. Mereka bisa diajak menjadi penggerak komunitas seni, pembuat konten budaya, atau bahkan mengikuti lomba musik tradisional.
Sebuah tips memainkan demung
Cara memainkannya mirip dengan Saron dimana memukul bilahan logam menggunakan tabuh kayu dengan tangan kanan dan menahan bilahan yang dipukul sebelumnya menggunakan tangan kiri agar menghilangkan suara dengungan yang tersisa. Cara ini biasa disebut dengan teknik memahat atau memencet.
Sumber:
- https://trenggaleknjenggelek.jawapos.com/seni-budaya/2596081831/bentuknya-mirip-inilah-perbedaan-saron-demung-dan-peking-dalam-gamelan-jawa?page=2
- https://validnews.id/nasional/menjaga-gamelan-tak-hilang-talun?
- https://jatengprov.go.id/publik/gamelan-ditetapkan-unesco-sebagai-wbtb-ini-langkah-pemprov-jateng-untuk-lestarikan/?
- https://bimasbuddha.kemenag.go.id/gamelan-dapat-melestarikan-budaya-tradisional-berita-766.html?
- https://www.youtube.com/watch?v=W4-87778-2g&list=LL&index=3
Bagus dan mudah di pahami.
ReplyDeleteBagus dn mudah dipahami
ReplyDeleteBagus sekali
ReplyDeletebagusss
ReplyDeletepenjelasan yang bagus dan mudah untuk dipahami
ReplyDeleteBagus menarik
ReplyDeletePembahasannya sangat jelas dan menambah wawasan tentang peran demung dalam gamelan. Terima kasih sudah berbagi ilmu!
ReplyDeletelangsung ngerti tentang gamelan
ReplyDeletebagus dan mudah dipahami dan rapih
ReplyDeletepenjelasannya bagus mudah dimengerti
ReplyDeletemudah dimengerti dan menarik penjelasannya
ReplyDeletepenjelasan jelas dan detail
ReplyDeleteMenarik , keren kak
ReplyDeletemenarik dan penjelasan mudah di mengerti
ReplyDeleteMenarik untuk di baca informasi yang di berikan ditel dan mudah di pahami
ReplyDeleteBaguss, menarik dan mudah dimengerti pembaca.
ReplyDeletepenjelasan yang mudah di pahami
ReplyDeleteSangat informatif dan sangat mudah dipahami
ReplyDeletePenjelasan nya yang mudah di pahami dan sangat informatif👍
ReplyDeletesangat informatif
ReplyDeletePembahasannya sangat jelas dan menambah wawasan tentang peran demung dalam gamelan. Terima kasih sudah berbagi ilmu
ReplyDeletesangat informatif
ReplyDeletemenarik sekali alat musik ini jadi tertarik untuk mencoba
ReplyDeleteKeren dan mudah di pahami👍
ReplyDeleteGood
ReplyDeletesangat menarik
ReplyDelete